Kebijaksanaan Menemukan Kebenaran Pada Diri Orang Lain & Mencari Kesalahan Pada Diri Sendiri

iamge source

Sifat kecemburuan dan iri adalah salah satu sifat yang tentunya dimiliki oleh setiap manusia. Tentu menjadi hal yang lumrah apabila kita memiliki kecemburuan terhadap orang lain, misalnya kita cemburu terhadap prestasi yang telah dicapai oleh si A atau si B. Namun, jika kecemburuan itu berdampak kepada keinginan kita untuk menjatuhkan si A atau si B maka kecemburuan kita tersebut merupakan sifat yang tercela. Dalam hidup ini kita sering kali sibuk mengurusi hidup orang lain dan lupa dengan kehidupan diri kita sendiri. Bagaimana? ada apa? dan kenapa? kita lupa menanyakan hal itu kepada diri kita sendiri, namun jika berhubungan tentang orang lain rasa keingintahuan kita semakin besar.

Memang tidak salah jika kita memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang orang lain, namun yang menjadi salahnya adalah ketika rasa keinginan tahuan kita itu hendak mengurusi hidup orang lain. Setiap manusia yang hidup didunia ini memiliki ujian masing-masing dalam hidupnya. Bisa saja ujian itu berupa Kesedihan, Kebahagiaan, Kekayaan atau Kemiskinan adalah ujian hidup bagi setiap individu yang hidup didunia ini. Salah satu sifat yang sering melanda dalam diri kita adalah tidak sadar terhadap ujian dalam hidup kita sendiri.

Bahkan yang paling mengkhawatirkan adalah kita malah disubukkan melihat, berkomentar terhadap ujian hidup dari individu atau kelompok manusia yang lain.

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” ( Al-Anbiya/21:35).

Adakala baiknya kita mengambil hikmah dari perjalanan hidup kita diduni ini. Semisal, jika seseorang sedang sibuk mengikuti tes ujian seleksi PNS, maka tentunya ia tidak akan banyak mengurusi dan berbicara dengan teman-teman satu ruangannya selama ujian berlangsung. Ia tidak mungkin membicarakan kawan yang disampingnya yang terlihat kesusahan dalam mengerjakan soal atau terlihat begitu santai dan lambat dalam menjawab soal tes ujian tersebut.


image source

Pada dasarnya, begitulah yang seharusnya kita jalani dalan hidup ini dimana kita tidak memiliki banyak waktu untuk membicarakan, mengurusi atau mengunjing setiap aib atau kelakuan buruk dari orang lain. Kita harus tahu dan sadar, bahwa masing-masing dari diri kita memiliki ujian kita masing-masing yang belum tentu telah kita selesaikan dengan sempurna. Maka sudah saatnya untuk kita menumbuhkan sikap kesadaran untuk lebih sibuk dengan memperhatikan aib diri kita sendiri.

Apa kemudian yang harus kita lakukan dalam hidup ini ?. Kita hendaknya harus selalu dalam keadaan beramal baik dan berbuat hal-hal positif. Karena kita tidak tahu apakah perbuatan baij yang selama ini kita kerjakan sudah diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa ataupun tidak. Berapa banyak amalan kita yang diterima dan berapa banyak amalan kita yang tertolak, tak satupun di antara kita yang mengetahui pasti tentang hal ini.

Hal itu serupa sebagaimana kita tidak mengetahui pasti berapa jumlah soal benar dan salah yang tepah kita jawab saat mengikuti tes ujian seleksi PNS. Bahkan yang sering terjadi kepada diri kita adalah rasa gugup, kekeliruan dan kekhawatiran saat menjawab ujian seleksi tersebut. Mungkin saja hari ini kita bisa bersantai-santai dan sibuk mencemoh serta mengurusi prestasi yang telah dicapai oleh individu atau kelompok lain. Padahal kesibukan kita terhadap hal ini merupakan suatu hal yang sangat merugikan, kita sendiri tidak tahu sampai kapan kita akan bertahan didalam dunia yang fana ini? berapa lama sisa waktu yang kita miliki untuk menyelasaikan semua soal ujian yang diberikan kepada diri kita? dan berapa lama waktu kita untuk menyiapkan bekal amal untuk menuju perjalanan hidup pada sesi selanjutnya?.

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(Al-Baqarah :155)

Melewati arus perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan dan ujian ini hendaknya kita harus lebih sibuk mengurusi hidup kita sendiri dengan ujian diri kita sendiri. Jika saat mengerjakan soal ujian saja kita memiliki kekhawatiran dan ketakutan, lalu mengapa kita malah sibuk mengurusi orang lain dengan rasa bangga dan terlihat begitu santai ?. Jawabannya adalah karena kebodohan yang telah menyelimuti dalam akal sehat kita. Apakah kemudian kita berpikir bahwa kesuksesan dunia dan jumlah harta yang telah kita miliki adalah menjadi tolak ukur terhadap keberhasilan penyelasian hidup kita ini.


image source

Faktanya banyak orang yang berhasil menyelesaikan hidup berupa kemiskinan, ia selalu menengadah tangan dan memohon keridhaan hanya kepada-Nya. Namun, banyak pula orang yang gagal menjalani ujian hidup ini berupa kekayaan, kenikmatan, kesuksesan, kesibukan untuk mengurusi dan mencemooh orang lain. Mereka lupa terhadap siapa yang telah menghidupkan mereka dan memberikan kenikmatan kepada mereka, hingga mereka lupa bahwa mereka sendiri sedang diuji dengan ujian mereka masing-masing.

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar”.( Al-Anfal/8:28).

Platform Steemit sebagai media yang mampu menampung setiap bakat dan kreatifitas yang kita miliki hendaknya kita harus senantiasa lebih bijaksana dalam memanfaatkan platform ini. Ada banyak kreasi dan media yang tersedia disni, kita bisa menjadi kreator dari tiap-tiap media itu menurut bakat yang kita miliki. Ada kemudian diantara kita yang menjadikan platform ini sebagai ladang untuk bercocok tanam rupiah.

Bahwa dalam bercocok tanam hendaknya kita bisa mengikuti tata cara yang baik dan benar dalam hal mencapai Ridha dalam setiap langkah kita diplatform ini. Dalam hal ini, seharunya dan sudah sepatutnya kita lebih bijak menanganai permasalahan yang sedang atau akan terjadi di masa depan.

Seyogyanya melalui media ini kita harus mampu menanamkan rasa sikap persatuan dan kesatuan dengan mengesamping hawa nafsu. Salah satu tindakan mudah yang bisa kita kerjakan dalam upaya menjaga tali persaudaraan adalah menghargai atas prestasi yang telah dicapai oleh orang lain. Hendaknya kita bisa menghargai mereka dengan mengesampingkan rada ingin mencemooh dengan kata-kata yang tidak baik.

Sebagai manusia yang memiliki akal pikiran, marilah kita berpikir secara lebih sehat dan bijak. Melalui media ini marilah kita bercocok tanam dengan cara yang baik dan benar dengan tidak menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Teruslah berbuat kebaikan dan tanamkan sifat rasa saling peduli dan menghargai orang lain.

“Jangan Mengawasi Orang Lain
Jangan Mengintai Geraknya
Jangan Membuka Aibnya
Jangan Menyelidikinya
Sibukkanlah Dengan Diri Kalian
Perbaiki Aibmu, Karena Kamu Akan ditanya (Allah) Tentang Dirimu, Bukan Tentang Orang Lain”

(Ali Bin Abi Thalib)

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *