Kabut Malam Yang Menjelma

Pikiranku terus saja membayangi tempat itu. Tempat yang telah meninggalkan berbagai cerita. Bayang-bayangku selalu terbawa dalam dunia negeri itu. Tak terasa 2 bulan waktuku telah kuhabiskan di tempat itu.

Aku terkujur rindu ketika membayangkan semua cerita itu. Cerita suka dan duka menjadikan sebuah kenangan dalam memori yang tak berskenario itu. Hari-hari yang penuh suka dan duka telah kulewati bersama mereka di tempat orang.

Tak sanggup menahan rindu tatkala kerinduan itu merasuk kedalam jiwa ini. Bayanganku semakin kacau tidak dapat mengendalikan tawaan ketika mengingat memori itu. Aku tidak bisa menahan rindu yang telah masuk kedalam jiwa ini.

Rindu ini terus memaksaku untuk dapat kembali mengulangi cerita dulu. Waktu yang telah memisahkanku dengan semua cerita yang pernah tercipta.

Tempat itu bernama negeri di atas awan. Aku sendiri yang menamainya sebagai negeri di atas awan. Takkala malam tiba kabut-kabut itu semakin mengingatkanku akan semua cerita indah dinegeri itu.

Malam yang sunyi takkala kabut menutupi pandangan dan suara “gong gongan” anjing menemani malamku dikala itu. Aku terkujur lemah tak mampu menahan rindu ketika bayanganku terus memikir malam-malam yang sunyi itu. Aku terbaring di tempat tidur dengan selimut tebal yang menutupi tubuh.

Sikawan dan telepon genggamku yang setia menemani malam yang sepi itu. Aku mencoba keluar dari rumah, inginku lihat apakah ada manusia yang berlalu lalang di jalan. Ternyata sepi, negeri ini benar-benar sepi seperti tidak ada kehidupan manusia.

Aku memegang erat ponselku sembari membalas pesan yang masuk dari teman-temanku.

Malam itu benar-benar terasa begitu sunyi. Mungkin saja karena cuaca yang begitu dingin membuat orang tidak berani keluar rumah. Aku merasakan hal yang sama. Tubuhku terbalut dalam kedinginan dan kabut di jalan itu.

Kabut-kabut itu bak menemaniku dalam kesunyian di malam itu. Kedinginan itu menyelimuti seluruh tubuhku hingga seakan dia masuk kedalam tulang-tulang di badanku. Tak lama aku sanggup berdiri dalam kedinginan ini. Aku bergegas berjalan kembali masuk dan membaringkan tubuhku di tempat tidur.

Kabut di luar itu benar-benar membuat kedinginan. Malam itu aku tidak memakai jaket. Sehingga aku bisa merasakan betapa dinginnya di negeri ini. Sesekali akupun meraskan rindu akan kampung halamanku.

Aku bercerita tentang semua itu kepada Aria. Dan kini malah sebaliknya, aku merindukan semua cerita-cerita itu. Tak sanggup aku menahan semua rindu ini seorang diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *