Begini Ciri-Ciri Tukang Ojek pada Masa Konflik Senjata di Aceh

Derita Konflik di Aceh

Saya sempat menelusuri akun instagram dari salah satu pengguna. Foto di atas telah di unggah oleh akun itu. Secara tiba-tiba saya mendapatkan ide untuk segera saya tuangkan di platform ini.

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat foto ini? Coba Anda pikirkan dengan apa yang ada pada gambar yang akan saya lampirkan di bawah. Jika Anda pernah merasakan kehidupan di masa konflik Aceh saya yakin Anda pasti paham tentang yang saya maksudkan ini. Objek yang sangat menarik perhatian saya dari gambar tersebut adalah penutup kepala atau Helm yang digunakan oleh bapak itu.

Konflik yang telah melanda Aceh pada masa silam telah meninggalkan berbagai cerita. Secara historis ada banyak pelajaran penting yang dapat di ambil dari konflik yang pernah menimpa wilayah Aceh. Peristiwa Operasi Darurat Militer seakan masih terbayang di benak saya ketika melihat helm yang digunakan oleh bapak itu.

Ketika konflik besar-besar yang terjadi di Aceh pada saat itu saya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Itu betul-betul sudah sangat lama sekali, namun bayangan saya tidak pernah luput dari peristiwa itu. Tepat pada tahun 2002-2003 ketika itu kontak senjata menerpa wilayah Aceh. Saya belum begitu dewasa untuk memahami apa yang sedang terjadi ketika itu. Kadang kala suara letusan senjata saja tidak begitu saya pahami.

Ketika itu saya hanya paham bahwa; hanya mencari tempat persembunyian ketika ada letusan peluru. Saya ingat betul ketika ruangan tamu rumah saya di susun rapi dengan tumpukan padi. Padi itu di susun rapi hingga membentuk sebuah kolom. Itulah tempat yang ayahku buat untuk berlindung dari peluru yang terbang secara bebas. Malam dan pagi hari terasa begitu mengerikan. Banyak orang yang berseragam dengan senjata api berlaras panjang dalam genggamannya. Puluhan tank dan mobil besar ikut mengarak mereka mengelilingi perkampungan. Itu sangat mengerikan. Di usia yang masih belum betul memahami arti tentang apa yang terjadi, seakan saya merasakan trauma yang amat mendalam.

Ada banyak cerita yang meninggalkan jejak sejarah dari peristiwa konflik Aceh. Belum lagi cerita duka yang dialami oleh beberapa saudara saya yang sebangsa. Ahh, saya tidak perlu menjelaskan ini kepada Anda. Sejarah telah menceritakan semua itu. Terkait tentang kebenarannya Anda dapat menelusuri jejak itu langsung dari orangnya. Pada kenyataan di media sendiri kita dapat melihat tentang kebenaran yang sebenarnya.

Tukang Ojek Wajib Gunakan Ini

(Image By Instagram Aceh World Time)*

Saya pikir penutup kepala yang digunakan oleh bapak itu adalah salah satu jenis helm yang sudah ada jauh sejak era 90-an. Kala itu helm yang berbahan plastik itu sering digunakam oleh RBT. RBT adalah sebutan yang digunakan untuk “ojek”. Dengan kata lain, RBT dalah sebutan lain dari “ojek” yang memberikan jasa angkut manusia.

Helm yang tidak berpenutup kaca depan itu adalah salah satu dari seribu cerita yang memenuhi sejarah konflik Aceh. Ketika melihat bentuknya tentu saja helm itu sangat jauh berbeda dengan beberapa jenis helm yang kita gunakan saat ini. Bahkan saya rasa akan sangat susah untuk menemukannya. Saya tidak pernah lagi melihat RBT yang menggunakan helm jenis itu. Mungkin saja inilah yang dinamakan dengan bagian dari peradaban.

Di era konflik Aceh, helm yang digunakan oleh RBT terdapat nomor di bagian belakangnya. Angka yang tertera nomor tertentu itu sengaja ditulis mengggunakan cat berwarna kuning. Ada juga beberapa helm pada saat itu nomornya berwarna hijau. Nomor-nomor yang tertera pada helm tertulis khusus sebagai suatu identitas dari pemilik kendaraan. Nomornya juga bervarian, tergantung dari masing-masing satuan yang menguasai wilayah tertentu. Setiap orang yang berprofesi sebagai RBT wajib untuk menggunakan helm yang tertera nomor dibelakangnya.

Selain helm yang unik itu, setiap pemilik kendaraan bermotor diwajibkan juga untuk menggunakan bendera merah putih berukuran kecil di bagian depan sepeda motornya. Mungkin itu adalah sebagai bentuk yang diterapkan untuk menunjukkan sikap nasionalisme dan cinta tanah Air Indonesia.

Itu cerita dulu, ketika semua kendaraan penuh dengan bendera merah putih dan halaman rumah tertantantap tiang bendera. Semua orang mengibarkan merah putih. Namun, saat ini nampaknya ada yang berbeda. Di kala peringatan hari kemerdekaan saja nampaknya bendera itu sangat susah di dapatkan di depan rumah-rumah. Hanya beberapa kantor dinas dan toko-toko tertentu saja yang mengibarkan bendera yang berwarna merah putih itu. Apakah jiwa nasionalisme masyarakat Aceh saat ini sudah semakin meluntur? Jangan salahkan siapa, tanyakan saja pada siapa yang telah membuat semua itu terjadi dan menjadi bagian dari sejarah masa ini.

Sudahlah… Tutup mata saja dan pura-pura tidak tau. Kejamkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *