Ada Yang Tertinggal Pada Kalimat “Aceh Dalam Peradan”

Tanpa berpikir panjang saya memutuskan utuk menulis tentang ini. Pada malam ini saya ingin mencoba berpacu dalam tulisan yang entah kemana arah tujuannya. Banyak persoalan yang memicu kehausan saya untuk mengeluarkan respon melalui tulisan. Namun saya akui ketidak pahaman saya tentang menulis yang benar membuat saya untuk berdiam diri. Ada opini yang ingin dicurahkan dan dilemparkan ke muka publik. Akan tetapi, kemampuan untuk menekan tombol yang masih rendah lagi-lagi menjadi alasan untuk tidak muncul di permukaan. Akhir-akhir ini saya terus mengikuti dan menjadi penyimak yang setia tentang beberapa gejolak yang sedang terjadi.

Hari demi hari terus berganti, ayam-ayam yang dulunya mengerami telur kini sudah beranak pinak. Saya masih memikirkan cara untuk menjadi penyimak atau mungkin saja menjadi analisis yang profesional. Nampaknya saya mulai memiliki ketertarikan untuk menggeluti dunia ini. Memutuskan untuk berdiam atau kemudian melemparkan semua ini melalui tulisan. Ada semacam ketakutan yang saya rasakan untuk merangkai semua kalimat yang terpikirkan tentang apa yang terlihat secara visual. Haruskah kemudian keinginan saya ini harus dituruti? Menulis sejumlah kalimat tanpa di dasari dengan pengetahuan yang cakap di bidangnya.

Ada orang yang mengatakan bahwa berdiam diri bukanlah pilihan yang tepat. Saya memang harus memulai perlahan-lahan dan belajar menulis dengan cara yang benar. Cara yang benar itu adalah dengan mengikuti kaidah-kaidah menulis. Salah seorang sahabat saya yang saat menjadi aktivis media kampus mengatakan bahwa ’’menulis itu harus mengikuti kaidahnya, atau jika tidak tulisanmu kana menjadi sampah”.

Ya, kita sudahi saja dulu cerita singkat saya di bagian awal itu….

Aceh Dalam Peradaban

Sejumlah orang sedang mengagung-angungkan kata “peradaban’’ untuk tanah rencong ini. Bebera artikel yang baru saja mencuak di media sangat menarik perhatian saya. Kaum intelektual juga sedang ramai membicarakan tentang kebangkitan peradaban di Aceh. Bahkan sejumlah kampus-kampus ternama di Aceh terus berlomba-lomba untuk menarik sejumlah perhatian dalam motto “Kampus Peradaban”.

Penulis-penulis ternama yang menjadi umpan beberapa media cetak di Aceh juga ikut mengeluarkan opini mereka tentang Peradan di Aceh. Bahkan di antara mereka juga saling mengadu argumentasi dan saling mengomentari melalui jurnal harian yang tayang baik di tajuk rencana, sudut opini, ataupun di halaman yang berbeda.

Dikutip dari wikipedia, peradaban adalah suatu isitilah yang lebih besar dari kalimat ‘’budaya’’ yang populer di kalangn kaum akademisi. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai seni, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat.Sorce….

Disisi lain beberapa kalangan akademisi menilai munculnya perdaban di Aceh ditandai dengan beberapa perubahan yang terjadi secara pesat dalam kebudayaan Islam di Aceh. Mereka cenderung memaknai istilah ‘’Peradaban’’ dengan kebangkitan Islam di bumi Serambi Mekkah ini. Ada pula yang membandingkan bahwa arus peradaban di Aceh sejalan dengan beberapa inovasi yang terjadi di belahan dunia untuk beranjak dari ketinggalan dalam segala aspek kehidupan.

Kemudian hal yang dibanggakan selanjutnya adalah tentang kejayaan Islam di masa dulu sejak Sulthan Malik-As Shaleh hingga kepada Sulthan Iskandar Muda. Bukti peradaban itu juga di contohkan dengan berdiri beberapa perkumpulan jama’ah pengajian di Aceh. Perspektif-perspektif tentang itu terus saja menjadi landasan mereka untuk mengaitkannya dengan istilah perdaban. Bahkan dalam sebuah artikel di tuliskan oleh Teuku Zulkhairi, MA yang merupakan alumnus pasca sarjana UIN Ar-Raniry itu mengatakan bahwa akan ada era baru yang akan terjadi tahun 2025.

Disisi lain, muncul pula bebarapa tanggapan dari sejumlah orang. Berdasarkan dari sejumlah paparan yang disampaikan oleh penulis di dalam artikenya, saya melihat bahwa penulis cenderung mengaitkan istilah peradaban dengan budaya Islam. Aceh sejak dulu memang dikenal sebagai tempat berkembangnya Islam. Memang tidak salah apa yang disampaikan oleh penulis, hanya saja adanya kekurang dari analisa itu yang tidak bersifat secara universal. Banyak hal yang dilupakan dalam mengaitkan peradaban dengan kualitas keislaman di Aceh. Jika puncak kebangkitan Islam di aceh hanya dipandang sebagai makna dari ‘’peradaban’’. Berarti peradan yang dimaksudkan adalah dalam makna yang khusus dan tidak dapat bersifat universal.

Jikapun peradaban dikaitkan dengan kejayaan Islam di masa lalu dan telah terjadi di masa kini. Maka peradaban itu seharusnya bisa menjangkau seluruh aspek kehidupan masyarakat Aceh. Mulai dari tingkat pemerintahan yang meneladani sifat Rasulullah hingga kepada tata cara menajalani kehidupan. Ya, Syari’at Islam bisa saja di jadikan sebagi sebuah alat untuk membangkitkan kembali nilai-nilai perdaban itu. Namun terlepas dari itu semua ada sesuatu yang kita lupakan dalam memaknai peradaban ini.

Hal yang saya maksudkan itu adalah mengenai nilai-nilai moral masyarakat Aceh yang lambat laun tidak begitu tersentuh dalam kebangkitan peradaban. Sesuatu yang sangat memilukan kembali menarik perhatian saya. Sebuah ciutan kalimat muncul di halaman Facebook Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA. Kalimat itu memberi suatu reaksi dalam gairah diri saya.

’’Uronyo tanyo hana le. Taharap bak aneuk, aneuk yang poh mate. Taharap bak rusok, rusok yang syok hate. Taharap bak ubat, ubat yang petimoh kude. Taharap bak page, kebe lam pade. Taharap bak pemimipin, pemimpin gadoh mepake. Taharap bak rakyat, rakyat habeh cre bre. Ta harap bak pemuda, pemuda gadoh di cafe-cafe’’.( Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA)

Dengan terjemahan bebas, jika kalimat itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesi, maka artinya adalah sebagai berikut :’’Hari ini kita sudah tidak ada lagi. Mengharap kepada anak, anak yang membunuh mati. Mengharap kepada rusuk, rusuk yang menusuk hati. Mengharap kepada obat, obat yang menimbulkan kudis. Mengharap kepada pagar, kerbau di dalam sawah (maksudnya kerbau memakan padi). Mengharap kepada rakyat, rakyat yang sudah bercerai berai. Mengharap kepada pemuda, pemuda asik di cafe-cafe’’.

Kalimat itu nampaknya senada dengan isi surat kabar dari Serambinews.com yang di publikasikan pada tanggal 12 Agustus 2018 yang berjudul Karakter Generasi Aceh Harus Diubah. Menurut mantan Rektor Ar-Raniry itu, generasi muda Aceh harus menjadi yang disiplin, jujur, berani, bekerja keras, dan setia.

Ada banyak persoalan yang kian hari semakin mencuak di Aceh dan menjadi hal yang pura-pura tidak diketahui. Karena mungkin saja kita telah lalai dalam hayalan fiksi dan terbang dalam geliat sejarah di masa lalu. Saya memiliki saran untuk kita semua. Hal yang perlu dibenah dari masyarakat kita Aceh saat ini adalah mengembalikan nilai-nilai moral yang keacehan. Karena melalui moral kita dapat mengendalikan diri untuk menjadi sebuah bangsa yang bermartabat dan menuju peradaban yang sempurna. Terlebih lagi dengan apa yang terjadi terhadap generasi muda kita saat ini. Ada banyak hal perlu dibenah dalam mencapai titik peradaban jika peradaban itu dilihat dari makna tatanan budaya. Jadilah generasi muda yang memiliki moral, moral yang layak pada pandangan aturan dan agama demi terwujudkan Aceh yang bermartabat dan bernuansa islami.

Pondasi Yang Hampir Roboh

Syari’at Islam yang diterapkan di Aceh nampaknya belum mampu membenah moral masyarakat Aceh saat ini. Moral adalah mengenai tentang sikap, tata krama ataupun sopan santun. Untuk membenah itu perlu kesadaran dalam masing-masing diri manusia. Sehingga sebagai suatu bangsa yang meyakini tentang sejarah, meyakini tentang keimanan, dan meyakini tentang ajaran agama. Maka dalam keadaan yang penuh sadar kita harus mendorong diri untuk menjadi bangsa yang bermartabat dengan menguatkan nilai-nilai moral yang berlandaskan keimanan, agama dan aturan umum. Karena yang terlihat hari, moral sudah seperti sebuah rumah tua yang hampir roboh. Rumah yang memiliki nilai historis, akan tetapi bila tidak dirawat dan dijaga maka dia juga akan tenggelam dalam perjalanan waktu.

Sekian kalimat yang dapat saya rangkai pada malam hari ini sembari tersenyum melihat @pojan yang sedang memikirkan bahan tulisannya malam ini…

Beberapa Sumber Bacaan :

One Comment on “Ada Yang Tertinggal Pada Kalimat “Aceh Dalam Peradan””

  1. Thank you so much for giving everyone such a special chance to check tips from this site. It can be very nice and full of a good time for me and my office co-workers to visit your blog at least three times a week to find out the new secrets you will have. Of course, I am just at all times amazed with your dazzling guidelines served by you. Certain two facts in this posting are rather the finest we have had.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *